
Sudahlah tidak usah kita bahas mengenai peperangan dan pertikaian, ataupun kehendak untuk berbagi kepada korban pertikaian tersebut. Cukuplah kita belajar ikhlas, sayapun ingin belajar dan menemukan makna sebenarnya dari ikhlas dalam diri saya. Mungkin ikhlas inilah yang dimaksudkan Einstein dalam kalimat “Peace cannot be kept by force; it can only be achieved by understanding.”
Setiap harinya kita mengeluh, bahkan pada hal terkecil sekalipun. Saya telah melewati fase sulit dalam hidup. Seharusnya saya tidak pernah kuliah, jujur karena tak ada satupun keluarga saya yang sanggup ataupun berkehendak untuk membantu saya, namun karena keinginan yang keras saya pun nekat berbicara dengan ayah saya bahwa saya akan kuliah di perguruan tinggi negeri di Medan – Sumatera Utara, Alhamdulillah orang tua saya merupakan orang paing bijak yang pernah saya temui, alhasil ia pun berpesan untuk mengizinkan saya mendaftar dan jika lulus saya akan dititipkan untuk bekerja di kafe kampus milik rekannya, hanya sekedar untuk menutupi biaya hidup. Dan untuk biaya kuliah ayah saya akan berusaha keras untuk memenuhinya. Betapa naifnya saya waktu itu, saya sangat berbahagia sehingga terbutakan akan fakta betapa susahnya ayah saya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, sedangkan saya hanya jika berkuliah tentu hanya akan menambah beban baginya. Syukur Alhamdulillah, saya tidak lulus! Saya akui pada saat itu saya sangat terpukul karena seharusnya saya lulus karena nilai UMPTN saya adalah terbaik kedua di jurusan tekhnik industri, namun gagal karena tidak mau menyogok demi kelulusan itu. Namun ada hal yang harus saya syukuri dan baru saya sadari ketika saya nekat masuk perguruan tinggi swasta dan berdiri diatas kaki saya sendiri.
Kehidupan kampus nan gemerlap bagi pemuda desa seperti saya, sungguh telah membuat saya lupa diri, uang saku untuk makan sehari-hari yang berjumlah Rp. 50.000,- perminggunya selalu raib tanpa bekas, sampai suatu ketika, saya menghabiskan uang tersebut dalam 3 hari. Alhasil saya harus survival dalam 4 hari berikutnya, untuk hari pertama sampai ketiga saya makan 1 bungkus mie yang saya bagi 3 untuk makanan satu harinya, saya harus menambah banyak air agar dapat memenuhi perut saya yang berteriak. Sampai ketika hari ke empat saya benar-benar kehabisan daya buat memenuhi isi perut saya. Ketika membuka lemari di kost saya menemukan ikan goreng yang telah berubah warna menjadi hijau karena telah berjamur. Tak ada cara lain, otak saya buntu dan saya lapar, alhasil dengan secarik kain untuk menutup mata, dan penjepit untuk menutup hidung dari bau busuk si ikan. Saya pun memakan lahap ikan tersebut dengan nasi basi sambil membayangkan masakan ibu saya.
Setelah itu saya duduk merenung di sudut tangga kost saya, saya tidak bisa pulang, karena hari itu hari minggu, dan orang tua saya pasti menunggu saya. Dan saya mulai menangis meratapi segala kebodohan saya, dan betapa lemahnya saya tanpa bantuan orang lain. Dan ketika adzan Ashar berumandang sayapun telah menggelar sajadah saya untuk mengadu kepada sang Khalik, akhirnya sajadah itu terbuka. Dan hari itupun saya berusaha untuk ikhlas akan keadaan saya, ini semua akibat perbuatan saya sendiri dan sayapun harus ikhlas atas itu. Saya mulai belajar tersenyum, dan ketika menjelang maghrib saya mendengar lantunan ayat Qur’an yang sangat merdu sehingga membius saya untuk menyongsong adzan maghrib yang akan berkumandang, saya pun melangkah menuju sumber suara nan indah itu, setibanya di masjid saya terkejut dengan seorang pemuda yang dengan tenangnya melantunkan ayat qur’an, tak terasa air mata ini pun mengalir lagi. Dan ketika waktu shalat tiba, tenang sekali rasanya ketika berada diantara jamaah. Dan ketika shalat berarkhir saya masih duduk dengan dzikir, dzikir akan syukur atas rezeki yang dilimpahkan oleh sang pencipta.
Ketika saya merasa tenang saya pun berdiri dan hendak beranjak dari masjid kembali menuju kost saya. Namun saya ditahan oleh pemuda pembaca qur’an tadi bersama dua pemuda lainnya. “jangan pulang dulu mas” katanya, “setelah ini ada pengajian di rumah sebelah, kalau tidak sibuk mari ikut kita” lanjutnya. Saya pun kemudian berkenalan dengan mereka, pada saat itu lapar sudah tak terasa, dan ketika pengajian selesai, para undangan disuguhi Lontong sayur khas medan, “dimakan mas, jangan malu-malu, para anak kost seperti kita jarang-jarang perbaikan gizi” kata pemuda tadi. Subhanallah hanya dengan sedikit ikhlas, Allah menunjukkan kebesarannya pada saya, alhasil ketiga pemuda tadi jadi teman saya dalam mengurus masjid.
Begitulah sepengggal kisah kehidupan saya, namun bisakah kita ikhlas dengan keterpurukan kita, dengan bencana kita, atau dengan kemalangan kita? Cukuplah kita mengutuk hujan yang turun ketika kita hendak keluar rumah, karena sebenarnya siapa yang kita kutuk? Sang hujan atau Sang Pencipta hujan? Atau sudahlah kita mengutuk jalan yang bolong, gedung yang bobrok, sekolah ambruk, atau level hidup yang rendah. Karena siapa yang sebenarnya kita kutuk? Keadaan atau Sang Pencipta keadaan? Karena semua telah tertuliskan atas kehendak-Nya. Cukuplah kita berdiri diatas kaki sendiri, dengan kemampuan kita masing-masing kemudian berangkulan tangan, bahu membahu demi memperbaiki keadaan di sekitar kita. Mampukah untuk Ikhlas?






0 komentar:
Posting Komentar